Jarak Bebas Bangunan

Jarak bebas adalah jarak minimum bangunan yang diizinkan dari bidang terluar suatu massa bangunan ke garis sempadan jalan, antar massa-massa bangunan lainnya, pagar/ batas lahan yang dikuasai dan/ atau rencana saluran, jaringan tegangan listrik, jaringan pipa gas dan sebagainya.

Seperti yang dijelaskan dalam dalam pedoman persyaratan teknis bangunan tunggal yang dikeluarkan Pemerintah DKI, jarak bebas memiliki beberapa dasar penetapan yakni berdasarkan:

  1. Ketinggian Bangunan

bagan setback tinggi bangunan

Rumus jarak bebas adalah (Y)n = (3,50 + n/2) meter.

n : jumlah lapis

y : jarak bebas (m)

 

2. Tata letak massa bangunan dalam satu daerah perencanaan

a. Apabila kedua massa bangunan mempunyai dinding berjendela/ transparan, maka jarak bebas minimum=Ya + Yb

b. Apabila salah satu massa bangunan berdinding masif/ tanpa jendela dan massa bangunan lainnya berdinding transparan, maka jarak bebas minimum = 0,5Ya +Yb

c. Apabila kedua massa bangunan berdinding masif, maka jarak bebas = 0,5Ya + 0,5Yb

d. Apabila nilai jarak GSB-GSI kurang dari Y, maka untuk:

  • Ketinggian bangunan > 4 lapis: jarak bebas minimum bidang terluar massa bangunan dengan GSJ= Yn
  • Ketinggian bangunan 4 lapis: jarak bebas minimum bidang terluar massa bangunan dengan GSJ= nilai GSB.

e. Apabila dari denah lantai dasar suatu massa bangunan sampai dengan denah lantai tertinggi membentuk bidang vertikal (yang lurus), maka jarak bebas minimum diberi reduksi sebesar 10% dari ketentuannya

f. Apabila suatu massa bangunan denahnya membentuk huruf U dan atau huruf H (dengan lekukan), bila kedalaman lekukan melebihi Y, maka massa bangunan tersebut dianggap dua massa bangunan dan antara kedua massa tersebut lebar minimum lekukan harus = Y

g. Jarak bebas antara massa bangunan dengan pagar, diatur sebagai berikut:

  • Jarak bebas = Y/2; bila dindingnya masif dan peruntukan lahan di sebelahnya bukan perumahan.
  • Jarak bebas = Y; bila persyaratan di atas tidak dapat dipenuhi.
  • Jarak bebas = Y/2; bila sudut bangunan membentuk sudut minimum 30 derajat dengan bidang pagar dan peruntukan di sebelahnya bukan perumahan, dinding bangunan diperkenankan masif.

h. Jarak bebas antara massa bangunan dengan jaringan tegangan tinggi listrik, jarak bebas minimum di atur 20 meter dari garis tengah jalur listrik.

i. Jarak bebas antara massa bangunan dengan”platform” jalan kendaraan layang yang bersifat umum/ eksternal ditentukan oleh Gubernur.

 

3. Jarak bebas dan overstek

Dengan adanya overstek pada lantai-lantai bangunan, dimensi lebar overstek serta pemanfaatan bidang mendatar overstek sebagai lantai bangunan, akan mempengaruhi penetapan posisi ketentuan jarak bebas, yang ketentuannya dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Lebar overstek tidak lebih dari 1,5m dan bidang mendatarnya tidak digunakan sebagai lantai bangunan, maka jarak bebas diperhitungkan dari as kolom paling luar blok bangunan dimaksud.

b. Lebar overstek tidka lebih dari 1,5m dan bidang mendatarnya digunakan sebagai lantai bangunan, maka jarak bebas bangunan diperhitungkan dari garis proyeksi bidang vertikal terluar overstek tersebut.

c. Lebar overstek lebih dari 1,5m di mana bidang mendatarnya digunakan atau tidak digunakan sebagai lantai bangunan, maka jarak bebas bangunan diperhitungkan dari garis proyeksi bidang vertikal terluar overstek tersebut.

d. Lebar overstek bervariasi dan ada yang melebihi 1,5m di mana bidang mendatarnya digunakan atau tidak digunakan sebagai lantai bangunan, maka jarak bebas diperhitungkan dari garis proyeksi bidang vertikal terluar overstek dengan lebar overstek maksimum.

4. Jarak lantai ke lantai bangunan

a. Jarak vertikal dari permukaan lantai dasar (atau disebut lantai-1) ke permukaan lantai-2 maksimum 10 (sepuluh) meter.

b. Jarak vertikal lantai-lantai selanjutnya maksimum 5 (lima) meter.

 

 

(disalin dari Pedoman Detail Teknis Ketata-Kotaan tentang bangunan tipe tunggal)

 

 

Advertisements